The end of capitalism has begun – Review

This is no longer simply my survival mechanism, my bolt hole from the neoliberal world; this is a new way of living in the process of formation.

Paul Mason dalam tulisannya menyatakan, bahwa manusia saat ini sedang memasuki era poskapitalis. Perubahan yang akan datang adalah perubahan-perubahan seperti teknologi informasi, cara baru bekerja, dan sharing economy[1]. Sementara itu, cara-cara lama akan berangsur-angsur menghilang.

Selama abad ke-20, para kaum kiri mempunyai mimpi untuk menghancurkan pasar dari atas, baik dengan kotak suara, maupun gerakan massa. Tujuan pusat dari semua itu adalah negara. Kesempatan muncul lewat kolapsnya ekonomi. Alih-alih mimpi menjadi nyata, selama lebih dari 25 tahun, proyek para kaum kiri ini lah yang justru mengalami kolaps. Pasar dan indivudalisme menguasai kehidupan dan menggantikan kolektivisme dan solidaritas. Buruh yang terlihat seperti “kaum proletariat” tidak lagi berpikir dan berlaku seperti buruh dahulu.

Kapitalisme menjadi trauma tersendiri. Mason dalam tulisannya melihat, bahwa teknologi menciptakan suatu rute baru, yang sisa-sisa dari kaum kiri lama – dan kekuatan-kekuatan lain yang dipengaruhi oleh mereka –  harus menganut hal itu atau mati. Dari sini, kapitalisme menjadi tidak akan bisa dihancurkan dengan teknik paksa. Kapitalisme akan dihancurkan dengan menciptakan sesuatu yang lebih dinamis, hampir tidak terlihat di dalam sistem lama, tapi justru yang akan menghancurkan dan membentuk ulang nilai-nilai dan tingkah laku baru. Mason menyebutnya dengan poskapitalisme.

Poskapitalisme sendiri menjadi mungkin karena ada tiga perubahan besar yang dibawa oleh teknologi informasi selama 25 tahun ke belakang. Pertama, teknologi informasi telah mengurangi kebutuhan untuk bekerja, mengaburkan batas antara bekerja dan waktu luang, dan melonggarkan hubungan antara bekerja dan upah. Gelombang otomatisasi yang datang – yang saat ini terhenti karena infratruktur sosial kita tidak sanggup menanggung konsekuensi – akan secara massif mengurangi jumlah pekerjaan yang dibutuhkan, tidak hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk memberikan kehidupan yang layak bagi semua.

Kedua, informasi merusak kemampuan pasar untuk membentuk harga. Hal ini terjadi karena pasar terbentuk berdasarkan kelangkaan, namun informasi berlimpah ruah. Mekanisme sistem pertahanan pasar pun membentuk pasar monopoli dalam skala yang tidak terlihat dalam dua ratus tahun ke belakang, namun sistem ini tidak bisa bertahan. Dengan membangun model bisnis dan share valuations yang berdasarkan pada tangkapan dan privatisasi atas semua informasi yang diproduksi secara sosial, perusahaan semacam ini membangun sebuah korporat yang rapuh, yang bertentangan dengan kebutuhan dasar dari kemanusiaan, yaitu menggunakan ide secara bebas.

Ketiga, kita mellihat kebangkitan spontan akan produksi kolaboratif, yaitu barang, jasa, dan organisasi yang muncul, yang tidak lagi merespons perintah pasar dan hierarki manajerial. Produk informasi terbesar di dunia, seperti Wikipedia, dibuat oleh seorang sukarelawan dengan gratis, menghancurkan bisnis ensiklopedi dan merampas industri periklanan.

Ekonomi baru ini hampir tidak terlihat dalam sistem pasar. Semua petak dalam perekonomian mulai bergerak dalam ritme yang berbeda. Mata uang paralel, time banks, ruang-ruang kooperatif dan bersifat self-manage telah menjamur, namun tidak disadari oleh para ekonom. Ekonomi baru ini hanya dapat ditemukan apabila kita mencarinya dengan teliti. Di Yunani, saat organisasi-organisasi nonpemerintah memetakan country’s food co-ops, produksi alternatif, mata uang paralel dan sistem pertukaran lokal, mereka menemukan lebih dari tujuh puluh proyek substantive dan ratusan inisiatif-inisiatif kecil, seperti Taman Kanak-Kanak gratis. Bagi para ekonom arus utama, hal-hal seperti itu sulit untuk dimasukkan ke dalam aktivitas ekonomi – tapi ternyata itu lah intinya. Hal-hal itu eksis karena mereka berdagang, walaupun terbata-bata dan tidak efisien, dalam mata uang poskapitalisme: waktu luang, aktivitas berjejaring, dan benda-benda gratis. Ini terlihat amat kurang dan tidak resmi, dan bahkan merupakan hal yang berbahaya dari seluruh alternatif terhadap sistem global, namun itu juga yang terjadi pada uang dan sistem kredit pada masa Edward III.

Bentuk baru dari kepemilikan, penyewaan, dan kontrak hukum merupakan subkultur dari bisnis yang muncul sejak sepuluh tahun belakangan, yang media telah menerjemahkan itu sebagai “sharing economy”. Bentuk baru ini sangat mungkin menjadi semacam rute pelepasan dari kapitalisme hanya jika proyek ini diajarkan, dipromosikan, dan dilindungi oleh perubahan mendasar yang dilakukan oleh pemerintah.

***

Paul Mason mencoba melihat kejatuhan kapitalisme ini dari krisis ekonomi pada tahun 2008. Krisis ekonomi 2008 telah menyebabkan depresi dan ketakutan akan stagnansi dalam jangka waktu yang lama. Solusi yang dimunculkan dari situ adalah austerity dan ekses moneter, namun hal itu tidak berjalan. Dalam negara yang mengalami krisis paling buruk, sistem pensiun dihancurkan, umur pensiun ditingkatkan sampai tujuh puluh tahun, dan pendidikan diprivatisasi sehingga para sarjana sekarang menghadapi utang tinggi seumur hidup.

Bahkan, banyak orang yang gagal paham akan gagasan austerity, yang adalah membuat upah, upah sosial, dan standard hidup orang-orang di barat menjadi turun sampai menemukan titik temu nilai upah, upah sosial, dan standard hidup orang-orang kelas menengah di China dan India.

Sementara itu, dalam absennya model alternatif, kondisi krisis lain muncul. Upah riil turun atau stagnan di Jepang, Eropa Selatan, Amerika Serikat, dan UK. Padahal, aliran ekonom dengan uang gratis menjadi lebih kaya 1%. Neoliberalisme, kemudian, telah berformasi menjadi sistem yang diprogram untuk menimbulkan bencana kegagalan yang berulang. Lebih buruh daripada itu, neoliberalisme telah merusak pola kapitalisme industrial yang telah ada selama dua ratus tahun, yang di dalamnya krisis ekonomi memacu bentuk baru dari inovasi teknologi yang menguntungkan semua orang. Ini terjadi karena neoliberalisme adalah model ekonomi pertama dalam dua ratus tahun yang kebangkitannya didasarkan pada penindasan upah dan penghancuran kekuatan sosial dan ketahanan dari kelas pekerja. Kekuatan kerja yang terorganisasi pada tahun 1850-an di Eropa, tahun 1900-an dan 1950-an di seluruh dunia memaksa pengusaha dan perusahaan untuk berhenti berusaha menghidupkan kembali model bisnis lama melalui pemotongan upah, dan memunculkan inovasi baru dalam bentuk baru kapitalisme.

Hasilnya adalah ditemukannya sintesis dari otomatisasi, upah yang lebih tinggi, dan konsumsi yang tinggi. Saat ini tidak ada tekanan dari tenaga kerja, dan teknologi di pusat gelombang inovasi ini tidak menuntut untuk menciptakan pengeluaran yang tinggi dari konsumen, atau mempekerjakan kembali tenaga kerja lama yang udah tua di dalam pekerjaan baru. Informasi merupakan mesin untuk menggiling harga menjadi lebih murah, dan menyayat waktu kerja yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan.

***

Kita dikelilingi tidak hanya oleh mesin-mesin pintar, tapi juga oleh lapisan baru realitas yang tekanan pusatnya berada pada informasi. Seperti misalnya pesawat terbang yang diterbangkan oleh komputer. Pesawat itu telah didesain, diuji coba tekanannya, dan diproduksi secara virtual berulang kali. Informasi mengenai terbangnya pesawat ini juga dikirimkan kembali kepada pembuatnya.

Akan tetapi, apakah semua informasi yang sangat banyak di sekeliling kita ini berharga? Saat ini, konten dari sebuah produk lebih berharga daripada bentuk fisik yang digunakan untuk memproduksi produk tersebut. Panilaian akan berharga atau tidaknya suatu produk diukur dari kegunaannya, bukan nilai tukar atau nilai asetnya. Di sini Paul Mason mengambil intinya, bahwa peran baru informasi adalah menciptakan suatu bentuk kapitalisme baru, yaitu kapitalisme bentuk ketiga. Jenis yang berbeda dengan kapitalisme industrial, yang merupakan kapitalisme pedagang-budak pada abad ke-17 dan ke-18. Para ekonom kemudian berusaha mendeskripsikan dinamika kapitalisme ini, dan dinamika, menurut Mason, secara mendalam bukanlah merupakan paham kapitalis.

Selama Perang Dunia II sampai setelahnya, para ekonom melihat informasi sebagai barang publik. Pemerintah Amerika Serikat pun berkata, bahwa informasi merupakan barang publik dan tidak boleh diambil keuntungan dari adanya informasi tersebut. Justru proses produksi informasi (dengan segala mesin dan teknologinya) itu lah yang harus menghasilkan untung. Kemudian berkembang pada tahun 1962, Kenneth Arrow, ekonom arus utama, mengatakan bahwa dalam ekonomi pasar bebas, tujuan dari menemukan hal baru adalah untuk menciptakan suatu Hak Kekayaan Intelektual. Hak Kekayaan Intelektual inilah yang membuat informasi menjadi komersil karena sifatnya yang memonopoli dan memproteksi data. Dari sini, timbul underutilization of information[2].

Di lain pihak, dalam mengembangkan kapitalisme, para agennya membangun infrastrukturnya dengan teknologi dan informasi yang berlimpah. Hal ini membuat Hak Kekayaan Intelektual menjadi paradoks. Saat informasi berlimpah dan didukung oleh teknologi yang canggih, Hak Kekayaan Intelektual menjadi tidak relevan karena semua pihak bisa mengakses informasi. Informasi tidak lagi menjadi suatu hal yang tidak digunakan dengan baik (underutilized) Pada titik ini, menurut Mason, pasar bebas tidak dapat ditoleransi lagi sehingga diganti menjadi praktik ekonomi gaya baru, yang salah satunya adalah sharing economy yang telah dijelaskan di awal tulisan ini.

***

Hal seperti di atas tadi sebenarnya sudah dibayangkan oleh ekonom abad ke-19: Karl Marx. Paul Mason kemudian menjelaskan tentang karyanya yang berjudul “The Fragments of Machines”. Dalam karyanya, Marx menggambarkan tentang ekonomi dalam sebuah mesin. Peran mesin adalah untuk memproduksi, peran manusia adalah untuk melakukan supervise atas mesin tersebut. Jelas bahwa dalam kegiatan ekonomi tersebut, kekuatan produktifnya ada pada informasi. Kekuatan produktifnya tidak lah terletak pada jumlah buruh untuk memproduksi mesin telegramnya, tapi pada informasi dan pengetahuan yang diproduksi itu sendiri. Organisasi dan pengetahuan justru yang memberi kontribusi besar terhadap kekuatan produktif itu dibandingkan proses kerja dalam menggunakan mesin. Bisa dilihat, hal ini sangat berbeda dengan pernyataan Pemerintah Amerika Serikat soal informasi yang dipaparkan di atas.

Marx menekenkan, bahwa mesin yang dibuat untuk tidak menciptakan apa-apa secara sosial tidak mempunyai nilai apa-apa. Di sini lah peran organisasi yang mengelola informasi tersebut untuk membuatnya menjadi lebih bernilai. Di dalam teorinya Marx, dikatakan bahwa sekali pengetahuan menjadi produktif dan menjadi lebih penting daripada buruh yang dipakai untuk menciptakan mesin, pertanyaan utamanya sekarang bukanlah “upah versus keuntungan”, tapi siapa yang mengontrol kekuatan akan pengetahuan tersebut. Alat produksi yang dimaksud di sini adalah pengetahuan atau informasi itu.

***

Kondisi di atas merupakan perubahan yang besar. Walaupun begitu, daya baru kapitalisme tersebut tetap memerlukan negara untuk menciptakan kerangka kerja, seperti buruh pabrik, mata uang, dan pasar bebas dalam kerangka kerja kapitalisme. Sektor poskapitalis ini akan berdamppingan dengan sektor pasar selama beberapa tahun, namun perubahan besar juga terjadi bersamaan dengan itu.

Transisi tersebut akan melibatkan negara, oasar, dan produksi kolaboratif. Untuk membuat itu terjadi, seluruh pergerakan kaum kiri, dari kelompok pemrotes sampai aliran sosial demokrat arus utama dan partai liberal harus diatur ulang. Dengan kata lain, apabila transisi logika poskapitalisme ini dimengerti, ide-ide di dalamnya bukan lagi milik para kaum kiri, namun merupakan ide pergerakan yang lebih besar dan luas, yang untuk itu kita perlu label baru.

Apabila dalam pergerakan kaum kiri lama aktor gerakannya adalah kelas pekerja industrial, sekarang semua orang adalah aktornya. Seluruh masyarakat adalah sebuah pabrik. Semuanya berpartisipasi dalam penciptaan dan penciptaan ulang akan norma dan institusi yang ada di sekitar kita. Di waktu yang sama, komunikasi merupakan alat vital untuk bekerja, dan keuntungan datang dengan pengetahuan dan informasi yang dibagikan dengan bebas.

Memang benar, negara dapat memblokir media-media sosial, dan bahkan seluruh internet dan jaringan. Namun, sosiolog Manuel Castells menuturkan, bahwa dengan begitu sama saja dengan mematikan listrik satu negara. Dengan menciptakan jutaan orang yang berjejaring – walaupun secara finansial tereksploitasi – namun juga dengan seluruh kecerdasan manusia dan temuannya (teknologi), info-capitalism telah menciptakan agen perubahan baru di dalam sejarah: manusia yang terdidik dan terkoneksi.

***

[1] Lihat: http://www.investopedia.com/terms/s/sharing-economy.asp dan http://ziliun.com/id/what-we-think/sharing-economy-ngirit-plus-hemat-pake-airbnb-dan-uber

[2] Informasi ada secara berlimpah namun tidak digunakan dengan baik.

Tulisan diisadur dari karya Paul Mason dalam The End of Capitalism has Begun

Gambar diambil dari film karya Godard berjudul La Chinoise

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s